rechargemyheart
blog untuk merecharge hati yang masih kosong…

A long Road to Reading Society

Kafe Buku

Sekumpulan remaja duduk melingkari sebuah meja bundar di sebuah ruangan yang nyaman. Di depan mereka ada sepiring cake dan segelas lemon tea. Di belakang mereka berjejer rak-rak buku yang diisi dengan berbagai jenis buku. Mulai dari buku pelajaran Matematika, hingga buku petualangan Best Seller, Harry Potter….
Salah seorang dari mereka menikmati makanan itu sambil membaca buku La Tahzan, sesekali ia melihat ke arah jendela, menikmati keindahan senja di perbatasan Jakarta dan Depok, Jawa Barat…


A View of Zone Of Edutainment

Pernahkah anda membayangkan tempat yang sangat menyenangkan untuk membaca? Seperti yang saya deskripsikan di paragraf awal, Zone of Edutaintment. Biasanya mahasiswa-mahasiswa Depok menyebutnya dengan istilah yang agak sederhana, kafe buku. Sebuah taman bacaan yang menyajikan edukasi dalam sebuah kemasan entertainment. Bayangan perpustakaan sebagai tempat yang ‘serius’, kotor, berdebu, dengan penjaga yang sudah tua dan berkacamata tebal merupakan suatu gambaran yang saat ini hanya menjadi suatu karikatur belaka. Jika istilah taman bacaan lebih menarik daripada istilah perpustakaan, maka hal itu tidak mejadi masalah. Apalah arti sebuah nama: “what is in a name?”, kata pujangga terkenal, Shakerpeare. Tetapi, jika Kompas, 12 Juli 2007 diberitakan bahwa taman bacaan jadi prioritas untuk memberantas buta huruf. Maka kini muncul pertanyaan baru, apakah Taman Bacaan berbeda dengan Perpustakaan?

Rumah Baca Kuartet di Suatu Sore

Rumah Baca Kuartet di Suatu Sore

Taman bacaan tentunya mempunyai koleksi buku, jadi pada dasarnya sama dengan perpustakaan. Karena taman bacaan terbuka untuk umum, maka taman bacaan dapat disejajarkan dengan perpustakaan umum dalam bentuknya yang paling sederhana, hanya menyediakan buku untuk bisa digunakan oleh masyarakat umum. Jadi dari berita Kompas tadi yang diharapkan adalah “taman bacaan jadi prioritas diberi subsidi dan didorong menjadi perpustakaan (umum) yang lengkap”.

Tapi, Taman bacaan jangan disamakan atau malah didorong menjadi kios buku, yaitu toko kecil tempat berjualan buku, Koran, dsb. Buku di taman bacaan bebas untuk dibaca, sedang buku di kios untuk dijual. Begitu taman bacaan dijadikan kios buku, saat itu pula masyarakat akan kehilangan tempat membaca buku tanpa dipungut bayaran. Jangan sampai terulang kejadian yang melanda 15.000 perpustakaan rakyat (baca: perpustakaan umum) yang pernah ada di Indonesia menurut laporan A.G.W Dunningham (konsultan Unesco) tahun 1954, tetapi kini hilang tak berbekas…

Suatu bangsa yang maju dan modern, dicirikan oleh sikap menjunjung tinggi profesionalisme, menghargai prestasi, efisiensi, memiliki etos kerja, berdisiplin serta memiliki kesadaran pemanfaatan waktu untuk kegiatan produktif, sadar iptek dan senantiasa memperbaharui diri melalui belajar. Salah satu sarana belajar yang paling efektif adalah dengan membaca.

2 Bocah sedang Membaca Buku di Depan Rumah Baca Zhaffa

2 Bocah sedang Membaca Buku di Depan Rumah Baca Zhaffa

Data yang diperlihatkan Balitbang Depdiknas, hingga akhir 2006 lalu masih ada 13 jutaan penduduk Indonesia yang buta aksara. Ironisnya, saat ini Indonesia masih mengalami kekurangan inovasi dalam memberantas penyakit lama bangsa ini. Pemerintah telah menargetkan tahun 2009 angka buta huruf di Indonesia akan diturunkan hingga menjadi 7,7 juta jiwa. Menyadari penting dan beratnya pencapaian target tersebut kemudian pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 5 tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PWB/PBA).

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Depdiknas Ace Suryadi mengakui untuk menurunkan angka buta aksara menjadi lima persen pada tahun 2009 merupakan tugas yang tidak mudah. Upaya ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dengan membaca, masyarakat memperoleh informasi yang dapat mengubah persepsinya, kemudian membentuk pola pikir (mind set) yang memotivasi prilaku yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya secara jasmani dan rohani. Dengan demikian, masyarakat belajar dan terpelajar yang diinginkan akan terbangun melalui masyarakat gemar membaca (reading society).

“Kami menyadari tidak mungkin bila target tersebut dapat dicapai hanya dengan bekerja sendiri. Kita menggalang kerjasama dengan berbagai pihak seperti dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, organisasi perempuan, organisasi keagamaan, hingga swasta,” katanya.

Seolah menyambut harapan besar pemerintah, rupanya kebijakan tersebut mendapat sambutan meriah dair berbagai kalanganmasyarakat. Munculnya, beberapa model inovasi yang bisa dikatakan kreatif dan atraktif untuk mempercepat pemberantasan buta aksara sedang dan telah diterapkan di masyarakat, yang tentunya disesuaikan dengan kondisi geografis dan budaya masyarakat setempat.

“Model pendekatan pemberantasan buta aksara memang kita serahkan kepada masing-masing daerah sebab belum tentu satu model pendekatan yang sukses di sutau daerah misalnya cocok diterapkan di daerah lainnya,” kata Dirjen Pendidikan Non Formal dan Informal Depdiknas Ace Suryadi, ketika menanggapi beberapa model inovasi tersebut.

Taman Bacaan Masyarakat yang Dibuat dari Bambu dan Kayu, TBM Sahara, Pekalongan

Taman Bacaan Masyarakat yang Dibuat dari Bambu dan Kayu, TBM Sahara, Pekalongan

Keterlibatan masyarakat secara langsung adalah membangun minat baca masyarakat melalui kegiatan riil. Seperti yang dilakukan Kiswanti, di Kampung Saja Lebakwangi, Kecamatan Pemagarsari, Parung-Bogor, Jawa Barat. Profesinya sebagai tukang jamu, tak pernah mengalahkan kekuatan hatinya untuk menularkan minat baca yang dimiliki dirinya kepada orang-orang lain yang ada di sekitarnya. “Tak sedikit tetangga-tetangga yang belum melek aksara bisa banyak terbantu oleh Taman Bacaan dari kami,” ungkap Kiswanti.

Kegiatan Pembelajaran di Warung Baca Lebak Wangi

Kegiatan Pembelajaran di Warung Baca Lebak Wangi

Selain Kiswanti, ada Agus Munawar. Ia adalah pengelola Taman Bacaan Arjasari yang lebih terkenal dengan sebutan Dapur Buku di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Inisiatif pribadi untuk menularkan minat baca telah mendorongnya untuk membuka taman bacaan di ruang dapur rumahnya yang berukuran 2×3 meter. Beruntung baginya, Dapur Buku yang ia kelola mendapat banyak perhatian dari masyarakat dan pemerintah daerah setempat.

Uniknya, ia punya program yang namanya Jemput Pembaca. Minimal seminggu sekali, ia dan beberapa koleksi bukunya menumpangi delman/andong berkeliling kampung. “Ke pasar, ke terminal, dan kemana saja, saya mengelilingkan buku-buku ini dan meminjamkannya kepada mereka yang ingin membaca dan belajar membaca,” ungkap Agus.

Lahirnya TBM memang kebanyakan berasal dari inisiatif masyarakat. “Kami selalu salut pada usaha keras dan kemauan keras para pengelola TBM ini. Mereka seperti pejuang aksara bagi Indonesia,” ucap Zulkarnaen sambil berdecak kagum terhadap pengabdian tanpa pamrih dari para pengelola TBM ini.

Gratis.... Baca dan Pinjam Buku di Rumah Baca Zhaffa

Gratis.... Baca dan Pinjam Buku di Rumah Baca Zhaffa

TBM yang lahir dan ngetop di setiap tempat, hendaknya memiliki koleksi buku yang sesuai dengan karakter desa/wilayah tempat TBM itu berdiri. Mengingat TBM tumbuh dari kebutuhan dan inisiatif masyarakat, maka diharapkan TBM dapat diterima dan dimanfaatkan semaksimal mungkin. “Memang, TBM hendaknya banyak didirikan di wilayah desa, wilayah-wilayah miskin perkotaan, dan di wilayah yang sulit untuk mengakses perpustakaan daerahnya. Target pemerintah hingga tahun 2015, di setiap desa akan punya TBM,” ujar Ridwan Arsyad, Kasubdit Budaya Baca, dari Dirjen Pendidikan Luar Sekolah.

Sampai dengan tahun 2007 berdasarkan Direktori TBM di Direktorat Pendidikan Masyarakat, Ditjen Pendidikan Nonformal dan Informal, terdapat 1.029 TBM yang tersebar di 30 Propinsi, dengan jumlah yang bervariasi antarpropinsi. Nah, kalau begitu, kan pemerintah tidak usah merasa kewalahan lagi untuk berfikir keras bagaimana caranya memberantas buta huruf!

Advertisements

5 Responses to “A long Road to Reading Society”

  1. Beuhh..
    Buka tbm apa qta? :p
    kpn mw k tbm lg bi?
    Ikutttt..

  2. rencanaya stelah skripsi gw kelar lah…
    buka TBM? hayyuuuukss…
    di obrolin aja dulu.. kemaren sih smpet ngobrol sm pu n esy.. yah ntar klo ngumpul lg aja deh.

  3. @ Rb Zhaffa: ini Rabia, maaf saya blm sempat main ke Zhaffa lagi, insya allah minggu2 ini…

  4. Bravo utk para phlawan aksara..jd malu ne, sy pustk wan, tp blm punya tbm..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: